MALAMitu, Sabtu, 4 Januari 2014 jarum jam
menunjukkan angka yang makin meninggi, sekaligus menandaikan beberapa saat lagi
akan tiba waktunya tengah malam. Ya, sekitar pukul 22.30 wib, kalau memori
ingatan ku belum salah.
MASJIDRahmatullah Lampuuk, Aceh Besar. Tentu masih dalam
ingatan kita tentang masjid ini. Dia adalah salah satu saksi bisu kedahsyatan
tsunami yang terjadi di Aceh 13 tahun silam, 26 Desember 2004.
Usai salat Jumat, dua pekan lalu, tampak satu
pemandangan tak terlupakan yang terjaga dalam bangunan masjid yang pertama
kali dibangun pada 19 Maret 1990 atau 21 Syakban 1410 H.
SENIN (13/11/2017) malam, Solong Coffee, salah satu warung kopi (Warkop)
ternama di kawasan Simpang Tujuh, Ulee Kareng, Banda Aceh, mendadak, dipadati
gadis muda, manis dan cantik.
Mereka
sejak selepas magrib sekitar pukul 19.00 WIB sudah mulai memadati salah satu
warkop tertua di Banda Aceh. Selama ini, Solong Coffee yang sudah berdiri sejak
1974 memang menjadi tempat mangkal warga Banda Aceh dan Aceh Besar.
MENJELAJAH wilayah tengah Aceh rasanya bagai menembus waktu yang
tak berujung. Jarak tempuh yang harus dilalui dari Banda Aceh, ibukota Aceh,
hingga menuju Aceh Tenggara setidaknya membutuhkan waktu 14-15 jam perjalanan
darat.
Jalan
lintas tengah ini melintasi tujuh kabupaten mulai Aceh Besar-Pidie-Pidie
Jaya-Bireuen, Bener Meriah, Aceh Tengah-Gayo Lues dan terakhir di Aceh
Tenggara. Di samping rentang waktu dan jarak yang ditempuh teramat lama dan
jauh, medan yang dilalui bukanlah sesuatu yang mengenakkan.
Rentang
waktu dan rentang kendali inilah yang selalu menjadi masalah besar bagi
masyarakat di pedalaman lintas tengah Aceh jika ingin berhubungan dengan
ibukota provinsi. Jalan darat adalah pilihan utama bagi masyarakat.
DI tengah kemajuan dan modernisasi Kota Banda Aceh, ternyata masih ada
warga Ibukota Provinsi Aceh itu yang makan satu kali sehari. Hal itu dialami
keluarga pasangan Adi Saputra (28) dan Nurhayati (21) beserta dua orang
anaknya.
HARU bercampur bangga. Itulah perasaan jiwa dan getaran hati saat mendengar
kabar Sekolah Menulis LintasGayo mulai berdiri dan melakukan aksinya pada 5-6
Oktober 2017. Bagi ku istilah “Sekolah Menulis” ini lebih cenderung pada
penggunaan kata “Sekolah Jurnalistik” yang di singkat menjadi “Sejuk”.
Ya..
SEJUK LintasGAYO. Nama itu serasa lebih mengenak dengan sejuknya udara dingin
di dataran tinggi Gayo. Sejuk terasa hingga ke hati. Bahwa hakekat dari
jurnalistik itu, yang kini sebagai ilmu terapan, memang harus pada regenerasi.
KAPAL dengan berat 2.600 ton itu adalah saksi bisu akan tsunami yang pernah
menerjang Aceh 26 Desember 2004. Dengan bobot yang tak ringan itu, kapal yang
sempat menjadi pembangkit listrik tenaga diesel itu, kini menjadi distinasi
yang selalu diminati para wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.
Banyak
cerita yang sudah ditulis banyak orang tentang ongokan besi panjang 63 meter
dan luas 1.900 M2. Masing-masing menulis menurut sudut pandang masing-masing. Ya..intinya
betapa dahsyadnya tsunami, hingga kapal yang sebelumnya berada di Pelabuhan
Ulee Lheue yang berjarak 4 kilometer kini terdampar di Gampog (desa) Punge
Blang Cut, Banda Aceh.
SONTAK dalam minggu ini, nama Abdul Kader Jailani atau yang
akrab disapa AK Jailani jadi buah bibir kalagan masyarakat Banda Aceh dan Aceh
Besar serta sebagian kecil masyarakat Aceh, barang kali.
Mengapa,
jika sebelumya banyak orang belum kenal AK Jailani yang sering di panggil AK
ini, mendadak tenar atau viral di media sosial (medsos). Masalahnya sepele. Pertama,
karena status fasbuknya yang mendapat respon keras dari pejabat. Kedua, karena
ia diusir dengan serta merta dari ruang siang DPRK Banda Aceh oleh seorang
anggota dewan yang terhormat.
HINGGA 1
September 2017 tercatat 5 (lima)
Jemaah Calon Haji(JCH) asal Aceh yang meninggal dunia di Arab Saudi. Mereka berasal dari empat kabupaten yang berbeda,
yakni Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Selatan dan Pidie serta Pidie Jaya.
Berikut data lengkat ke lima JCH yang meninggal tersebut berdasarkan informasi dari Koordinator
Keprotokolan dan Humas Panitia Pembantu Penyelenggara Ibadah Haji (PPPIH)
Embarkasi Aceh, H Rusli Lc, M.Si.
Waktu
seakan begitu cepat berlalu. detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun
terus berlari pada satu titik nadir. Karena itulah janji kita pada Allah,
sebelum dilahirkan ke muka bumi yang fana ini.
Sabtu,
26 Agustus 2017, sekitar pukul 23.45 wib. Janji itu telah kau penuhi sahabat. Dalam
kondisi mu yang terbaring sakit, malaikat maut menjemput mu, karena batas
waktunya telah sampai.